Kamis, 29 Oktober 2009
Berdasarkan keterangan : Allâhu Ismun li Dzât al-Wâjib al-Wujûd artinya : Allah swt itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang pasti ada keberadaannya (eksistensi). Jadi jelaslah Allah swt itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib untuk dilayani dengan sebenar-benarnya, karena berdasarkan keterangan: Allâhu Ismun li Dzâti Ma’bûdi Bi Haqq artinya : Allah swt itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib dilayani (ma’budi) dengan sebenar-benarnya pelayanan (ibadah).
Etimologi
Beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata “Allah”. Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh (الله) berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ilâh (tuhan) sehingga berarti “Sang Tuhan”. Namun teori ini menyalahi bahasa dan kaidah bahasa Arab. Bentuk ma’rifah (definitif) dari ilâh adalah al-ilâh, bukan Allah swt. Dengan demikian kata al-ilâh dikenal dalam bahasa Arab. Penggunaan kata tersebut misalnya oleh Abul A’la al-Maududi dalam Mushthalahah al-Arba’ah fî al-Qur’an (h. 13) dan Syaikh Abdul Qadir Syaibah Hamad dalam al-Adyân wa al-Furuq wa al-Madzâhib al-Mu’âshirah (h. 54). Kedua penulis tersebut bukannya menggunakan kata Allah swt, melainkan al-ilâh sebagai bentuk ma’rifah dari ilâh. Dalam bahasa Arabpun dikenal kaidah, setiap isim (kata benda atau kata sifat) nakiroh (umum) yang mempunyai bentuk mutsannâ (dua) dan jama‘, maka isim ma’rifah kata itupun mempunyai bentuk mutsannâ dan jama’. Hal ini tidak berlaku untuk kata Allah swt, kata ini tidak mempunyai bentuk ma’rifah mutsannâ dan jama’. Sedangkan kata ilâh mempunyai bentuk ma’rifah baik mutsannâ (yaitu al-Ilâhâni atau al-Ilâhaini) maupun jama’ (yaitu al-Âlihah). Dengan demikian kata al-ilâh dan Allah swt adalah dua kata yang berlainan.
Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Arab Alâha. Cendekiawan muslim terkadang menerjemahkan Allah swt menjadi “God” dalam bahasa Inggris. Namun demikian, sebagian yang lain mengatakan bahwa Allah swt tidak untuk diterjemahkan, dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jama’ dan gender (berbeda dengan God yang memiliki bentuk jama’ Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa inggris). Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan al-Qur’an.
Allah swt dalam Islam
Dalam Islam, Allah swt adalah satu-satunya tuhan (tanpa sekutu) (QS al-Ikhlas [112]: 1), sang pencipta, tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq dan Yakub, sebagaimana juga tuhan dari Musa, Dawud, Sulaiman, Isa dan Muhammad (semoga rahmat dan shalawat dilimpahkan kepada mereka semua).
Keberadaan Allah swt
Para Imam yang empat telah sepakat bahwa Allah swt berada di atas ‘Arsy tidak ada seorang pun dari makhluk yang serupa dengan-Nya.
Sumber:
1. Ahmad Husnan. Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim. Al Husna,
Surakarta. Cetakan Pertama, Muharram 1425 H / Mei 2005 M. h. 25-27.
2. Ensiklopedia Al-Qur’an, 2007, jilid 1. h, 75
‘Arsy (عَرْش) adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘arasya – ya‘risyu – ‘arsyan (عَرَشَ يَعْرِشُ عَرْشًا) yang berarti “bangunan”, “singgasana”, “istana” atau “tahta”. Di dalam al-Qur’an, kata ‘arsy dan kata yang seasal dengan itu disebut 33 kali. Kata ‘arsy mempunyai banyak makna, tetapi pada umumnya yang dimaksudkan adalah “singgasana” atau “tahta Tuhan”.
Pengertian ‘arsy (عَرْش), menurut para ulama:
1.Rasyid Ridha dalam Tafsîr al-Manâr menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida itu antara lain didasarkan pada S. Yunus (10): 3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan.”
2.Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr bi al-Ma’tsûr) menjelaskan, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah swt. menciptakan ‘arsy (عَرْش) dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. ‘Arsy (عَرْش) itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. ‘Arsy (عَرْش) dikelilingi oleh empat buah sungai, yaitu: 1) sungai yang berisi cahaya yang berkilauan; 2) sungai yang bermuatan salju putih berkilauan; 3) sungai yang penuh dengan air; dan 4) sungai yang berisi api yang menyala kemerahan. Para malaikat berdiri di setiap sungai tersebut sambil bertasbih kepada Allah swt. Di ‘arsy (عَرْش) juga terdapat lisân (bahasa) sebanyak bahasa makhluk di alam semesta. Setiap lisân bertasbih kepada Allah swt. berdasarkan bahasa masing-masing.
3. Abu asy-Syaikh mempunyai pendapat yang berbeda dengan pendapat as-Suyuti di atas, ia berpendapat bahwa ‘arsy (عَرْش) itu diciptakan dari permata zamrud hijau, sedangkan tiang-tiang penopangnya dibuat dari permata yakut merah. Di ‘arsy (عَرْش) terdapat ribuan lisân (bahasa), sementara di bumi Allah swt menciptakan ribuan umat. Setiap umat bertasbih kepada Allah swt dengan bahasa ‘arsy (عَرْش). Pendapat ini berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang diterima Abu asy-Syaikh dari Hammad.
Lebih lanjut tentang asal-usul penciptaan ‘arsy (عَرْش), Abu asy-Syaikh juga meriwayatkan hadis dari asy-Sya‘bi yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “‘Arsy (عَرْش) itu terbikin dari batu permata yakut merah. Kemudian, satu malaikat memandang kepada ‘arsy (عَرْش) dengan segala keagungan yang dimilikinya”. Lalu, Allah swt berfirman kepada malaikat tersebut, “Sesungguhnya Aku telah menjadikan engkau memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan 7.000 malaikat. Malaikat itu dianugerahi 70.000 sayap. Kemudian, Allah swt menyuruh malaikat itu terbang. Malaikat itu pun terbang dengan kekuatan dan sayap yang diberikan Allah swt ke arah mana saja yang dikehendaki Allah swt. Sesudah itu, malaikat tersebut berhenti dan memandang ke arah ‘arsy (عَرْش). Akan tetapi, ia merasakan seolah-olah ia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya terbang semula. Hal ini memperlihatkan betapa besar dan luasnya ‘arsy (عَرْش) Allah itu.”
Gambaran fisik ‘arsy (عَرْش) merupakan hal yang gaib, yang tak seorang pun mampu mengetahuinya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas di dalam riwayat Ibnu Abi Hatim. Ibnu Abbas berkata, “Tidak akan ada yang mampu mengetahui berapa besar ukuran ‘arsy (عَرْش), kecuali penciptanya semata-mata. Langit yang luas ini jika dibandingkan dengan luas ‘arsy (عَرْش) sama dengan perbandingan di antara luas sebuah kubah dan luas padang sahara.”
Di dalam perbincangan ulama kalam (teolog Islam) persoalan ‘arsy (عَرْش) merupakan topik yang kontroversial. Para ulama tersebut memperdebatkan apakah ‘arsy (عَرْش) itu sesuatu yang bersifat immaterial (nonfisik) atau bersifat material (fisik). Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:
Pertama, golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa kata ‘arsy (عَرْش) di dalam al-Qur’an harus ditakwilkan dan dipahami sebagai makna metaforis (majazi). Jika dikatakan Tuhan bersemayam di ‘arsy (عَرْش), sebagaimana firman Allah swt,
اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Allah swt, Dia-lah yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang dapat kamu lihat. Kemudiah Dia bersemayam di atas Arasy.”(QS al-Ra’du [13]: 2)
maka arti ‘arsy (عَرَش) di sini adalah kemahakuasaan Tuhan. Tuhan merupakan zat yang immaterial, karenanya mustahil Dia berada pada tempat yang bersifat material.
maka arti ‘arsy (عَرَش) di sini adalah kemahakuasaan Tuhan. Tuhan merupakan zat yang immaterial, karenanya mustahil Dia berada pada tempat yang bersifat material.
Kedua, golongan Mujassimah atau golongan yang berpaham antropomorfisme. Pendapat golongan ini bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut mereka, kata ‘arsy (عَرْش) harus dipahami sebagaimana adanya. Karena itu, mereka mengartikan ‘arsy (عَرْش) sebagai sesuatu yang yang bersifat fisik atau material.
Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa ‘arsy (عَرْش) dalam arti tahta atau singgasana harus diyakini keberadaannya, karena al-Quran sendiri mengartikan demikian. Akan tetapi, bagaimana wujud tahta atau singgasana Tuhan itu hanya Dia sendiri yang tahu. Akal manusia memiliki keterbatasan untuk mengetahuinya. Pendapat ini diyakini oleh golongan Asy‘ariyah.
Sumber:
Ensiklopedia Al-Qur’an, jilid 1, halaman 31-32
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)









